PLTU dan Mifa Bersaudara Dinilai Kurang Bermamfaat Bagi Warga

Oleh
Anggota Pansus temukan lubang bekas tambang batubara milik PT Mifa Bersaudara, Foto (ist).

Nagan Raya, Asatu.top - Tak hanya akibat polusi berbahaya membuat masyarakat menderita, kebisingan dari aktivitas kerja selama 24 jam juga menjadi faktor terganggunya ketenangan hidup warga disekitar PLTU dan PT Mifa Bersaudara.

Seorang ibu rumah tangga yang hidup disekitar PLTU dan PT Mifa Bersaudara di Desa Suak Puntong, Nagan Raya, Dewi (38) mengaku, kehadiran perusahaan dinilainya telah memberi dampak buruk terhadap kehidupan keluarganya.

Menurut Dewi, kehadiran perusahaan batubara tersebut dinilainya telah menyebabkan keluarga mengalami gangguan pernafasan, batuk-batuk dan susah tidur saat beristirahat di malam hari.

Itu sebabnya ibu tiga anak ini bersama ratusan warga Dusun Geulanggang Meurak berharap PLTU dan PT Mifa Bersaudara segera melakukan ganti rugi tanah dan rumahnya agar mereka mencari tempat yang lebih nyaman berteduh guna menghidupi anak-anaknya.

"Kita harap perusahaan segera juga ganti rugi tanah dan rumah kami agar kami pindah rumah ke tempat yang nyaman. Sebab di sini sudah sangat menderita dan terganggu kesehatan anak-anak kami," kata Dewi.

Hal yang sama juga diutarakan Siti. Menurut Siti, perusahaan tidak merekrut orang kampung untuk bekerja di PLTU dan PT Mifa Bersaudara. Bahkan untuk juru masaknya saja dikirim dari luar desa.

"Anak-anak kami di sini susah dapat kerja di PLTU dan Mifa. Bahkan sewa tempat tinggal dan beli makanan saja mereka di bawa dari luar," tutur Siti.

Sebelumnya, seorang mantan wartawan, Ali Muhammad Aji meminta PT Mifa Bersaudara dan PLTU segera merelokasi warga sekitar yang terdampak polusi.

Sebab batubara kerap mengotori udara beracun termasuk merkuri, timbal, arsenik, kadmiun dan partikel halus yang telah menyusup ke paru-paru masyarakat yang tinggal di sekitar PLTU dan PT Mifa Bersaudara.

Komentar

Loading...