Kampung Peunayong : Contoh Keberagaman Agama di Kota Syariat Islam

Oleh
Puri Tasya Rahmawani

Asatu.top, - Bangsa Indonesia memiliki keberagaman yang begitu banyak, tidak hanya masalah adat istiadat atau budaya namun juga bahasa, ras, dan juga masalah agama.

Walaupun mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam, namun ada beberapa agama dan keyakinan lain yang juga dianut oleh penduduknya seperti agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu adalah contoh agama yang juga tidak sedikit dipeluk oleh warga Indonesia.

Setiap agama tentu punya aturan masing-masing dalam beribadah. Namun perbedaan ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Sebagai satu saudara dalam tanah air yang sama, setiap warga Indonesia berkewajiban menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia agar negara ini tetap menjadi satu kesatuan yang utuh dan mencapai tujuannya sebagai negara yang makmur dan berkeadilan sosial.

(Moh Abdul Kholiq Hasan, Jurnal Studi Islam, 2013) Keberagaman agama yang dimiliki oleh Indonesia seharusnya dipertahankan, agar tidak menjadi alat untuk saling menjatuhkan dan saling tuding antar sesama. Tidak ada salahnya memiliki agama yang berbeda, karena memang kita hidup di Indonesia ini memiliki keberagaman agama yang berbeda-beda. Tinggal bagaimana kita bersikap saling toleran antar sesama agama.

Di Banda Aceh kota Syariat Islam yang ada di Indonesia. Pelaksanaan Syariat Islam di atur dalam Peraturan Daerah (Perda/Qanun) Aceh nomor 5 tahun 2000 tentang pelaksanaan Syariat Islam.

Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh tetap menjamin kebebasan beragama. Agama selain Islam diberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah dan keyakinannya masing-masing. Mayoritas masyarakat Kota Banda Aceh adalah pemeluk agama Islam dengan jumlah 222.582 jiwa. Namun, bukan berarti agama lainnya tidak berkembang di kota ini.

Situs laman resmi Pemerintah Kota Banda Aceh, agama lainnya seperti Protestan memiliki penganut sejumlah 717 jiwa, Katolik 538 jiwa, Hindu 39 jiwa, dan Budha 2755 jiwa tetap hidup berdampingan dengan masyarakat Muslim lainnya. Umat minoritas bebas beribadah menurut agama masing-masing meski Kota Banda Aceh berjuluk Serambi Mekkah menerapkan syariat Islam. Masyarakatnya saling menghargai dan tidak mengusik satu sama lain.

Bukti adanya keberagaman agama dapat kita jumpai salah satunya di Kampung Peunayong, tempat ini merupakan salah satu contoh keberagaman agama yang ada di Banda Aceh.

Terdapat sebuah Gereja Katolik yang berdiri tegak dan bila kita berjalan beberapa meter ke arah depan maka akan terlihat pula sebuah Vihara, tak jauh dari sana di ujung jalan Panglima Polem berdiri megah sebuah Masjid, bila kita berjalan ke arah jln. Pelangi maka akan terlihat pula Gereja Protestan.

Walaupun dengan jarak yang berdekatan, namun dapat dilihat bahwa tidak pernah terjadi konflik keagamaan disana. Semua berjalan berdampingan dan beriringan dengan sikap toleransi yang tinggi karena pada prinsipnya tidak ada satupun agama dan kepercayaan yang dianut oleh umat manusia mengajarkan kekerasan, kebencian terhadap manusia dan makhluk hidup.

Tak hanya rumah ibadah yang berdiri berdekatan, di pasar Peunayong pun terdapat para pedagang dan pembeli yang saling berinteraksi. Jika kita melintasi pasar Peunayong maka tidak heran bila banyak menemui wajah dengan mata sipit dan kulit putih pada kawasan ini karena kampung Peunayong termasuk dalam salah satu kawasan yang banyak dihuni etnis Tionghoa yang bermukim di Banda Aceh.

Walaupun Kota Banda Aceh sangat kental akan Syariat Islam akan tetapi Kota ini tetap memberikan kebebasan bagi pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadahnya. Salah satu hal lain yang dapat kita temui di kampung Peunayong yaitu adanya perayaan Imlek yang dilaksanakan setiap tahunnya.

Perayaan Imlek merupakan perayaan terpenting bagi warga Tionghoa. Tujuan dari sembahyang Imlek adalah sebagai bentuk pengucapan syukur, doa dan harapan agar di tahun depan mendapat rezeki yang lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai media silaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Imlek adalah tradisi pergantian tahun, sehingga yang merayakan Imlek ini seluruh etnis Tionghoa apapun agamanya. Setiap tahunnya ketika perayaan Imlek maka akan di adakan atraksi barongsai di Peunayong. Tak hanya etnis Tinghoa yang melihat atraksi ini namun juga ramai warga lokal yang sangat antusias untuk menyaksikannya. Agama lainnya pun seperti Kristen ketika merayakan perayaan Natal di Gereja, maka akan berlangsung aman dan damai tanpa adanya gangguan dari pihak manapun. Begitu pula dengan agama lainnya seperti Hindu, Budha, bebas melaksanakan ibadah sesuai ajaran agamanya meski Aceh memberlakukan Syariat Islam.

Sangat tidak benar rasanya jika kita mendengar bahwa tingkat kebebasan beragama di Banda Aceh sangat rendah. Dari beberapa penjelasan diatas dapat kita lihat bahwasannya keanekaragaman agama di Banda Aceh sangat tinggi sikap toleransi masyarakatnya karena toleransi adalah kunci perdamaian yang harus dijaga. Hal ini akan mencegah terjadinya diskriminasi dan menjaga keutuhan persaudaraan tanpa memandang adanya perbedaan.

Penulis : Puri Tasya Rahmawani
Universitas Uin Ar-Raniry, Fakultas Ushuluddin
Jurusan : Sosiologi Agama

Komentar

Loading...