Bukan Pemimpin Harus Mundur Tapi Masalahnya yang harus di Selsaikan

Oleh
Putri Reghina Anisa

Asatu.top - Menjadi seorang pemimpin bukanlah sesuatu hal yang mudah. Hal ini dikarenakan banyaknya yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin, seperti membuat kebijakan, mengatur, mengawasi, dan mengambil keputusan.

Sehingga ketika keputusan itu keluar, selalu ada pro dan kontra dari setiap kebijakan yang dibuat di setiap para pimpinan organisasi, tentunya hal ini terjadi pula pada negara. Presiden dapat dikatakan adalah pemimpin tertinggi yang ada di Indonesia. Presiden dibantu oleh pemerintah lainnya untuk dapat mengatur sebuah negara. Negara sangatlah luas dan memiliki banyak penduduk. Tentunya setiap orang tersebut memiliki pemikiran yang berbeda-beda.

Selama ini, banyak kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Kebijakan itu dibuat untuk mengatur negara kita agar dapat menjadi lebih baik. Negara kita memiliki asas demokrasi yang berarti dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Rakyat dapat menyampaikan segala aspirasinya kepada pemerintah. Namun, tetap saja sering kali terdapat pro dan kontra mengenai kebijakan pemerintah.

Buruknya, kebanyakkan dari rakyat Indonesia yang langsung menyalahkan pemimpinnya, dan meminta pemimpin untuk turun dari kedudukannya. Padahal segala kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah pastinya sudah dipikirkan matang-matang mengenai baik dan buruknya. Beberapa rakyat sering menyalahkan pemimpinnya bukan justru memberikan aspirasi dengan baik dan menyelesaikan permasalahannya.

Banyak terdapat contoh mengenai hal ini, seperti yang terjadi akhir-akhir ini, dimana mahasiswa desak Jokowi untuk mundur jika tidak memenuhi tuntutan mereka yaitu untuk menurunkan kenaikan tarif Penghasilan Negara Bukan Pajak (PNBP) Polri dan tarif listrik golongan 900A. Hal ini dilakukan tidak hanya di Jakarta, tetapi di 19 titik di Indonesia. Pemerintah membuatkan kebijakan ini tentunya ada faktor yang mendorongnya.

Aspirasi tidak hanya bisa disampaikan melalui demonstrasi, namun bisa melalui media lainnya. Demonstrasi ini menyebabkan jalanan menjadi terhambat dan bahkan dapat menimbulkan korban jiwa. Dapat dikatakan bahwa para mahasiswa melakukan pengancaman jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, padahal yang membuat kebijakkan ini bukan hanya presiden.

Contoh kasus lainnya adalah yang terjadi pada masa pandemi covid-19 ini. Banyak pihak yang mendesak Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto untuk mundur dari jabatannya karena tidak baik dalam melakukan penanganan covid-19.

Menteri Terawan dianggap enteng dalam menghadapi wabah ini. Masa yang harusnya menjadi ajang untuk saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan, justru menjadi ajang untuk saling menyalahkan. Masyarakat boleh kecewa atas kinerja dari beliau, namun turun dari kursi jabatan bukanlah sebuah solusi yang tepat, menyalahkan pun bukanlah sebuah solusi. Saling berbenahlah yang harus dilakukan.

Bukan pemimpinnya yang harus mundur, tapi masalahnya yang harus diselesaikan. Permintaan pemimpin untuk mundur dari kursinya kerap terjadi sejak bertahun-tahun lalu.

Hal inilah yang harus dilakukan pembenahan, siapapun pemimpinnya, jika rakyat tidak bisa patuh terhadap kebijakan yang diberikan pemerintah, tetap saja tidak akan berjalan dengan baik. Kebijakan pemerintah memang terkadang memiliki banyak kontra, tapi cara penyampaian aspirasi inilah yang harus dirubah. Harus ada sinergi yang baik antara pemerintah dan rakyat untuk dapat menjadikan Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Cara yang dapat dilakukan adalah, saling berbenah dan menyelesaikan akar permasalahan. Hal itu yang harus sama-sama dilakukan oleh setiap orang. Selama ini juga terdapat banyak provokator. Kita ketahui bahwa saat ajang pemilu para calon saling bersaing untuk dapat menjadi pemenang, terkadang dengan cara yang tidak sportif.

Pendukung calon yang tidak menang dan tidak menerima kekalahan inilah yang kemudian memiliki kemungkinan untuk menjadi provokator, dimana mereka bisa menghasut orang banyak untuk kontra terhadap kebijakan pemerintah.

Hal ini juga menuntut kita untuk selalu membuka pikiran dan memilah serta memilih apa yang harus kita dengar, percayai, dan lakukan. Kerja sama yang erat harus dibangun oleh pemerintah dan rakyat. Dengan perbaikan beberapa sistem, maka hal ini dapat terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin selagi kita ingin berusaha. Mari bergenggam tangan untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik. Kemajuan Indonesia tidak bergantung kepada pemerintah, tapi juga rakyatnya!

Penulis

Putri Reghina Anisa
Instansi: Universitas UIN Ar-Raniry, Fak FUF, jurusan Sosiologi Agama.

Komentar

Loading...