Tokoh dan Mantan Ketua Aceh Atas Premanisme Jurnalis

Oleh
Ilustrasi

Aceh Barat, Asatu.top - Masih segar dalam ingatan kita, aksi ala barbar membalbal para pekerja pers di wilayah Barat Selatan Aceh(Barsela)awal tahun 2020 ini. Kejadian beruntun berselang dua pekan ini seperti hambar di mata hukum Ada apa?

Peristiwa pertama sekali terjadi menimpa korbannya Aidil, wartawan Tabloit Modus (5/1) di Meulaboh. Pada suatu malam korban diajak bertemu seseorang ke suatu kawasan, lalu diteror diancam tembak dengan pistol. Pelaku tetap gentayangan walau wartawan tersebut sudah membuat laporan pengaduan ke Polres Aceh Barat.

Kasus teror mental terhadap pekerja pers yang satu ini belum selesai, korban pembalbalan ala mafia kembali terjadi kedua kalinya terhadap wartawan LKBN Antara, Teuku Dedi Iskandar. Kali ini modusnya pengoroyokan saat bersangkutan sedang menjalakan tugas jurnaliatik di sebuah kafetaria Kota Meulaboh Senin(20/1).

Sejak hari itu korban bal-balan ini terkapar di Rumah Sakit Cut Nyak Dhien, Meulaboh. Pelaku beridentitas sama ARM memiliki senjata api jenis pistol, meskipun telah berturut-turut membal-bal wartawan, namun pelakunya ini seperti kebal hukum.Buktinya hingga saat ini tetap bebas melenggang kangkung.

Saat kami tim wartawan Banda Aceh menjenguk korban di rumah sakit Selasa (21/1) kebetulan Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman dan disusul Kapolres Aceh Barat AKBP Argamuda juga ikut hadir juga.

Kapolres ini ketika wawancara pers menyesalkan kejadian ini, namun menurut dia motifnya soal utang piutang.Pelakunya satu orang (bukan dikeroyok) dan kasus ini akan ditangani pihaknya, apalagi kejadiannya saat korban sedang diskusi dengan Kabag Humas polres ini.

Sebaliknya korban dedy mengatakan, tidak ada sangkut paut dengan utang.Beberapa hari sebelumnya kejadian dia selaku Ketua PWI Aceh Barat diancam tidak mengeluarkan statemen tetang kasus teror wartawan dengan pustol sebelumnya.

Adnan NS tokoh pers Aceh yang juga mantan Ketua PWI Aceh mengecam dua kejadian itu sebagai tindakan teror dan barbar ala mafia.Mafia baru ini sengaja meneror, membalbal wartawan dalam rangka membungkem pers di wilayah Barat Selatan Aceh(Barsela)agar mulus operasional ala mafia baru ini.

Kelompok mereka ini diduga tidak senang melihat kemajuan Barsela sekarang ini dan aksi ini bisa menimbulkan ketakutan para investor.Mereka gentayangan dan melakukan praktik "mafia kampungan", dengan mencatut nama organisasi tertentu dan merambah ke mana-mana, seolah-olah sebagai penguasa yang kebal hukum, ujar sang pemegang press card number one nasional asal Aceh ini.

Anehnya lagi ada pihak yang sengaja mengalihkan persoalannnya, agar kasus melanda sosok pers pertama ini terjadi tidak dibidik dengan UU Nomor 40 tentang pers, melainkan dijerat dengan hukum pidana. Aneh bin ajaib tuturnya. Ada apa di balik ini Di mana hati dan mata mu wahai hamba penegak hukum, tanya Adnan mantan Dewan Penasehat PWI Pusat ?

Komentar

Loading...